fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Wednesday, May 18, 2005

menjadi mempelai

Dua keluarga dipersatukan dalam pernikahan. Tampak membahagiakan. Di masjid pagi itu, aku ikut menyaksikan sepasang mempelai yang akan melakukan upacara nikah. Menurutku ritual itu sekedar formalitas, untuk mendapatkan sebuah buku nikah warna hijau untuk suami dan warna coklat untuk isteri.

Entah apa maksud warna-warna itu. Bisa saja warna-warna itu tak dimaksudkan untuk mempunyai arti. Gak penting amat membahas warna buku nikah. Aku lebih suka membahas hiruk-pikuknya persiapan menikah.

Enam bulan sebelumya, dia, sebagai pihak laki-laki harus menyiapkan barang-barang yang akan menjadi "seserahan". Mulai dari sepatu, sajadah sampai bedak. Barang-barang itu dibikin mirip bunga-bungaan, hewan dan entah apa lagi. Ditaruh dalam nampan dan terbungkus plastik transparan.

Lalu ke "jewelry" pesan cincin kawin dan perhiasan lain untuk mas kawin. Nyaris seminggu mencari-cari "jewelry" yang mau dan mampu membuat pesanan. Akhirnya dapat juga cincin dari platina bermatakan berlian, entah berapa karat, yang jelas kecil banget. Lalu ke tempat souvenir untuk memesan gantungan kunci "kristal" yang didalamnya berisi daun kering. Panas-panas menyusuri jalanan sepanjang jatinegara cukup memberikan pengalaman baru. Barang-barang dengan kualitas butik pun bisa didapat dengan murah.

Urusan souvenir selesai, lalu cari ide untuk membuat undangan. Usulanku, bentuk undangan selembar, mirip kartu pos. Irit kata-kata tapi penuh makna. Tapi ditolak. Akhirnya dia memilih untuk yang desain konvensional, sangat biasa. Mencari percetakan cukup membuang pulsa juga. Maklum mungkin aku terlalu cerewet untuk menawar. Tapi tak apa, aku harus membuat bajet itu tidak defisit banyak.

Lalu berdua dengan dia malamnya membuat list undangan. Mengelompok-ngelompokkan nama-nama berdasarkan asal, pekerjaan dan kerabat-kerabat jauh. Hmm .. ternyata aku punya kenalan di jakarta yang cukup banyak, nyaris seribu orang.

Masalah itu belum terasa apa-apa. Yang terberat mungkin ketika harus mengirimkan undangan. Untung saja, tempat tinggal calon tamu itu berkelompok-kelompok. Sehingga pengiriman hanya didasarkan pada arah mata angin. Kelompok selatan, barat, timur dan utara. Senang rasanya bisa reuni dengan mereka.

Dirasa persiapan cukup, lamaran dilakukan malam minggu. Kesempatan itu dipakai untuk menentukan hari pernikahan. Dan kesepakatan itu adalah minggu, 15 mei 2005.

Mempelai perempuan memakai baju putih bersanggul gede dan mirip robot sewaktu berjalan. Pelan dan terkesan hati-hati. Yang pria memakai jas warna abu-abu, berpeci dan terselip hiasan di dada kirinya. Akad nikah di lantai dua masjid itu cukup lancar. Keduanya mengucapkan sumpah. Setelah sah menjadi suami isteri, keduanya lalu sungkem ke kedua orang tua dan orang yang dituakan. Kedua mata pengantin perempuan tampak berair, terharu.

Upacara selesai, dan orang-orang mendekat dan mengucapkan pertanyaan yang seragam. " Lha kamu kapan akan nyusul?". Aku hanya tersenyum lalu berkata, secepatnya. Maksudku, aku hanya akan menikah dengan kata-kata. Kali ini hanya terucap dalam hati.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home