fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Friday, May 06, 2005

taksi pagi

Jumat ini adalah hari kejepit, setelah kemarin libur, waktu itu Isa naik ke surga. Rasanya enggan berbenah untuk kerja. Sepanjang jalanan lebih sepi daripada jumat-jumat lalu. Orang-orang long weekend.

Aku sengaja berangkat agak siangan. Tepat apa yang aku duga, sampai di kantor mash tetap aku yang pertama datang. Selebihnya hanya meja-meja yang masih rapi dan bersih. Aku diam. Aku ke kantor agar ada teman bicara, namun tak ada. Sebenarnya ingin tidak masuk saja, tapi di tempat kost ini semua juga pergi.

Aku ingin menjadikan hari ini berbeda. Aku sengaja memakai kaos dan sepatu yang tak formal. Aku menyetop taksi, biasanya sih naik angkot. Karena jaraknya dekat, pak sopir menawar untuk lewat memutar agar jarak dan waktu bisa lebih lama. Aku setuju. Taksi melaju kencang.

Aku liat nama yang tertera di dashboard: Novian. Kulitnya hitam, tapi tak tampak samasekali seperti kebanyakan sopir taksi. Kesan yang aku dapatkan, dia sangat intelek dan mirip para profesional. Melewati jalanan yang lengang itu, kami berbincang.

"Sudah lama mas bawa taksinya?"

"Belum, ini minggu pertama saya bawa taksi?"

"Sebelumnya?"

"Di rumah saja"

Tanpa aku tanya lagi, dia bercerita, dia bosan dengan rutinitas kerja. Dunia yang membuat dia menjadi merasa sendiri. Memang sering hang out bersama. Setelah sampai dirumah, dia tak menemukan siapa-siapa. Orang-orang dekatnya sudah pergi dan berpulang. Lalu Novian berhenti.

Jakarta yang selalu bergerak, membuat novian masih merasa sepi dan terasing. lalu dia ingin "bereksperimen moral", menjadi sopir taksi. Pilihan bodoh? Entahlah, Aku pikir dia hanya sekedar melakukan riset, atau memang mencari sesuatu yang baru. Aku tak yakin.

Rupanya banyak orang menolak kesendirian yang sepi. Bukankah sendiri tak berarti kesepian? Bisa jadi.

"Sejujurnya, aku perlu teman berbincang, beraktifitas sampai ke hal intim terdalam."

"Memang selama ini bagaimana?"

"Pertemanan yang semu, sebatas hubungan kerja aja. Tak lebih.

"Terus yang kau inginkan?

"Pertemanan yang apa adanya, yang bisa membuat aku dan dia jujur".

"Kamu harus punya pacar"

"Entahlah, pengalamanku tak pernah mampu memenuhi keinginanku."

"Sendiri tak harus kesepian kok. Lihat itu, kata ku sambil menunjuk orang-orang yang berderet di samping kiri jalan.

Lalu kami mengamati. Banyak orang-orang berderet di sepanjang kiri jalan. Mereka diam, matanya lurus menatap kearah datangnya bus kota. Tak ada yang saling berbincang. Pribadi-pribadi yang saling asing. Mereka tak ingin saling mengenal. Mereka ingin sendiri, walaupun dalam keramaian. Dan mereka tidak kesepian!.

Taksi berhenti di depan kantor. Lalu aku mengambil uang dari dalam tas. Aku serahkan ke Novian, tapi dia menolak.

"Tak perlu membayar, katanya pelan. Sepertinya dia ingin lebih lama berbincang.

"Kenapa"

"Karena kau telah sedikit membuat aku tidak kesepian".

Novian lalu meminta aku menyebutkan nama. Aku memberikan id ym ku. Kami berpisah.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home