fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Wednesday, June 01, 2005

ke dupan

Lama di jakarta, ke dupan aja baru kesampaian jumat kemarin. Itu pun harus bolos. Dan sampai sekarang bolos masih tetap menyenangkan ternyata. Rasanya masih seperti waktu sekolah dulu. Aku dan teman-teman berdelapan ke dupan. Karena buru-buru, makan siang dilakukan di dalam mobil.

Jalanan tak begitu macetnya. Sejam kemudian sampai. Kami punya kupon, setiap satu tiket dapat diskon 10 ribu, lumayan. Angin yang deras menawarkan cahaya matahari yang masih panas. Maklum masih jam 2 an. Di depan pintu penjagaan tiket, dipasang kipas angin - kipas angin yang menyemburkan uap dingin. Suasana tampak seperti berkabut. Bunga-bunga berwarna-warna, tubuh-tubuh berbalut baju-baju santai yang lalu lalang tampak tersamar.

Suara hingar-bingar terdengar. Dari speaker-speaker yang menyuarakan musik tak jelas, teriakan-teriakan orang-orang yang diombang-ambingkan "ombang-ombang". Juga jerit histeris orang-orang yang menikmati "halilintar", kora-kora dan "niagara". Masih ada panggung "live" yang menyanyikan lagu-lagu latin.

Aku lalu mencoba naik ***** (lupa namanya). Yang jelas bikin perut mules dan pusing karena di guncang-guncang kesemua arah. Mendebarkan dan terasa ada sesuatu yang berbeda setelahnya. Sekitar 5 menit lalu berhenti. Kalau mau masih ada kesempatan untuk kedua dan ketiga. Tapi aku udah nggak kuat, pusing!

Antrian tak begitu panjang, karena hari kerja. Makin sore yang datang makin banyak. Mayoritas pengunjungnya orang-orang bermata segaris. Dupan jadi mirip disney land hongkong. ( ada ngga sih), kalau ngga melihat semua petugasnya yang berkulit gelap.

Semua yang datang berombongan. Minimal berpasang-pasangan. Bahkan ketika aku ngantri untuk arung jeram ada sepasang perempuan berciuman. Bagi mereka berdua, dupan memang menawarkan fantasi liar yang dahsyat tak terlupakan. Tak ada satupun yang datang sendirian. (Kalau ke dupan sendirian, terus teriak-teriaknya sama siapa kira-kira?)

Seharian muter-muter dan mencoba nyaris semua permainan (arung jeram, perang bintang, istana boneka, rumah miring, niagara dan banyak deh ) kecuali kora-kora dan halilintar. Capek dan lapar, tapi puas. Lalu aku menuju ke deretan foodcourt. Ada banyak menu disediakan. Aku pilih planet baso. Murah. Di spanduk depannya tertulis besar-besar, baso Rp.3500. Selesai makan, di bonnya tertulis 10.500. Rupanya yang dimaksud dalam spanduk itu hanya satu biji baso, bukan satu porsi.

Pulangnya mampir ke pantai, menikmati suasana malam dan angin yang berhembus. Menikmati ombak laut yang datangnya selalu sejajar dengan garis pantai. Menikmati suara-suara burung bercericit yang tersapu debur ombak yang menabrak pagar beton.

Bulan tampak diatas laut, seperti ingin menantang lampu-lampu yang berjajar disepanjang pantai. Bulan itu mungkin iri, karena cahayanya tak begitu diperlukan lagi. Hanya nelayan yang masih memerlukan sebagai penanda waktu ketika di tengah laut.

Lalu aku pulang, dalam perjalanan aku mencatat rencana untuk minggu-minggu kedepannya. Masih banyak tempat di jakarta yang belum aku datangi: Gedung kesenian Jakarta, Planetariom, wayang orang barata, museum fatahilah, museum wayang, jalan surabaya dan banyak lagi. Aku harus mempersiapkan semuanya. Seperti yang barusan, kalau gak diniatkan tak akan kesampaian.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home