fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Monday, June 13, 2005

lapar

Kulihat di banyak iklan tv, koran, dan terutama majalah perempuan: cara-cara menurunkan berat badan. Dan teman-teman perempuanku ketika makan sangat irit. Aktifitas makan menjadi beban. Makananan dipersepsikan musuh. Kadang malah, makan hanya untuk memanispulasi lambung. Mereka memilih makanan dengan protein dan karbohidrat minimal.

Beda dengan orang-orang NTT. Mereka kurang makan. Begitu lamanya kekurangan makan hingga anak-anak disana menderita busung lapar. Perutnya membukit. Paha dan tangannya menyusut kecil mengeriput. Matanya tampak lebih lebar. Mereka tak tumbuh tinggi. Berat badannya begitu jauh dibawah anak-anak normal.

Ketika aku tanya ibunya, mereka hanya memberi makan anaknya nasi ( beras dicampur dengan singkong) dengan lauk kerupuk. keluarga-keluarga di Ntt itu tak punya uang. Sejak kasus ini muncul, ternyata daerah lain juga mengalami: Sulawesi selatan, Lampung dan pedalaman Riau.

Yang mengejutkan, di ibu kota negara ini, ada kabar sekitar 2000 anak menderita busung lapar. Sutiyoso yang berwajah buruk itu merasa tertampar. Dia menolak fakta itu. Yang benar adalah, masih menurut dia, hanya kadar gizinya dibawah rata-rata.

Proses terjadinya busung lapar tersebut sebenarnya cukup lama. Awalnya anak-anak hanya kekurangan energi dan protein (Kwashiorkor). Bila memburuk, tubuhnya akan mengurus dan mengering (marasmus).

Lalu mengalami edema (penumpukkan cairan di bawah kulit; biasanya di tungkai bawah) dan adanya akumulasi cairan di rongga usus. Bagian yang terkena edema akan membengkak. Hal ini terjadi pula pada bagian perut. Lalu diikuti kulit yang kusam dan rambut yang mudah lepas.

Pemerintah mencari kambing hitam. "Semua ini karena adanya otonomi daerah." "Pak Gubernur di daerah bak raja-raja kecil yang bebas membuat aturan main". "Lalu program-program pemerintah pusat dilalaikan." Begitu suara-suara yang muncul dari salah satu pejabat. Kini pak SBY menyerukan untuk menghidupkan pkk dan posyandu lagi.

Kalau aku akan menyalahkan orang tua-orang tua yang tidak punya cukup pengetahuan dan biaya untuk mengurus dan merawat anak. Kalau memang belum/tidak bisa, tak perlu memaksakan mempunyai anak.

Ide ini pasti mendapat perlawanan kalau sampai keluar sana. Tapi harus ada yang mengkampanyekan. Kalau saja dimulai sejak hari ini, bisa jadi penderitaan anak karena ketakmampuan mengurus akan bisa lebih kecil. Mungkin perlu satu generasi lagi untuk menerima pendapat itu.

Aku jadi ingat dulu ketika nonton layar tancap di lapangan. Filmnya mengenai keluarga dengan banyak anak. Dan di akhir film ada pesan agar mempunyai dua anak saja. Dengan begitu orang tua tak repot dan anak bisa tercukupi kebutuhannya. Ide itu kini kin sudah diterima.

Juga dalam novelnya NH Dini (judulnya tirai menurun kl gak salah), di jepang orang-orang hanya akan mempunyai anak kalau memang segalanya siap. Tak hanya materi tapi juga kesiapan untuk mengurus dan mendidik anak yang hanya dilakukan oleh ibunya, bukan pembantu.

Dengan kesadaran baru itu, kemungkinan anak-anak akan menderita penyakit yang sebenarnya bisa diantisipasi akan tidak ada. Masa kecil menjadi benar-benar menyenangkan. Dan masa depan adalah suatu bayangan hitam yang samar akan lenyap.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home