fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Tuesday, June 07, 2005

rasa kehilangan

Aku ingat temanku yang telah mati. Aku merasa kehilangan. Aku hitung-hitung telah ada 13 teman yang mati. Mati muda. Ternyata banyak temanku yang telah mati. Terakhir minggu lalu, ketika temanku mati karena sakit jantung. Dia meninggal jam 03.00 dan dikuburkan jam 11 siang. Tak ada keriuhan dan perasaan shock. Keluarga, saudara sudah mengikhlaskan. Dia telah tergolek selama tujuh bulan.

Isterinya bercerita, sebelum meninggal dua hari sebelumnya dia tak membentak atau marah-marah lagi. Dia lebih banyak bersuara rendah dan tidak mengeluh. Mungkin dia sudah pasrah dan menyerah. Harapan kesembuhannya tak ada. Semangat hidupnya telah lenyap. Lalu matilah dia.

Aku ikut mengantar jenasahnya ke kuburan. Hanya keluarga dekat yang ikut mengantar. Tiga mobil, satu ambulan untuk jenasah dan beberapa puluh motor yang melambai-lambaikan bendera kuning selama dalam perjalanan menuju kuburan.

Di kuburan, liang lahat sudah siap. Sekelilingnya rumput liar menutupi sebagian nisan, merambat menuju arah matahari. Nama-nama, angka tahun kelahiran dan kematian tertupi. Aku kaget. Nyaris hampir semua mati dalam usia yang belum lagi tua. Rata-rata mereka lahir tahun 1948-1958. Sangat sedikit yang lahir seangkatan bapakku. Beberapa bahkan ada yang lebih muda. Ada yang lahir di medan dan mati di jakarta umurnya hanya dua hari. Aku yakin, ini tidak salah baca. Karena aku menyingkapkan rumput yang menutupinya untuk memastikan.

Dua orang pekerja yang diupah telah menunggu tidak sabar. Mereka ingin cepat upacara selesai. Tampak wajah lega ketika mayat dimasukkan ke liang lahat. Setelah doa berakhir amin, upacara bubar. Tak tampak hadir saudara kandung orang yang meninggal tersebut. Anaknya yang nomor dua yang telah dititipkan dikampung sejak setahun lalu juga hanya memberikan pesan, tak bisa pulang. Sudah ikhlas dengan kepergian bapaknya, kasian meliat bapaknya tergolek terus katanya.

Tiba-tiba aku takut kehilangan bapak dan ibuku. Kebetulan dua minggu ini dia ke jakarta. Ingin menengok anak-anaknya yang sudah hampir setahun tidak pulang. Aku kaget karena dia begitu cepat tua menurutku. Tahun kemarin dia masih begitu segar dan bersemangat. Kini dia tampak ringkih. Bapak tak ikut karena sudah tak memungkinkan melakukan perjalanan dalam waktu lama.

Aku baru sadar, sebentar lagi aku akan kehilangan kedua orang tua. Orang yang selama ini membuat semangat hidupku terus tumbuh. Entah kalau mereka sudah tak ada lagi. Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi. Dan sejak itu juga mungkin semangat hidupku juga akan semakin turun.

Dan menurut pengamatanku, orang yang tidak mempunyai semangat hidup akhirnya akan cepat mati. Temanku, setyawati, dia mati muda dalam usia 29 tahun. Perempuan lajang itu, selain tak punya pacar, bapaknya tak jelas. Sementara hubungan dengan ibunya buruk. Sejak sebelum sakitnya, dia bercita-cita ingin mati muda.

Lalu sakitlah dia di rs pelni. Sebetulnya sakit itu sudah sejak lama. Tapi dia dengan sengaja membairkannya. Hingga dirawat seminggu, dokter menyerah. Tumornya sudah stadium lanjut. Harus dilakukan minimal dua kali operasi. Baru menjalani operasi yang pertama, dia meninggal. Sendirian, mayatnya tak ada yang mengurus. Untung ada temanku yang lain, tanto yang bisa menyelesaikan masalah itu.

Dan masih banyak kasus lain yang selalu kuikuti terus.

Lalu aku merasa sudah dekat dengan kematian. Aku takut, tapi tak bisa menghindar. Mungkin aku harus bisa tetap menjaga semangat dan keinginan hidup yang tinggi. Karena aku sampai sekarang belum masuk asuransi. Aku tak ingin mati meninggalkan beban bagi yang kutinggalkan. Seperti temanku yang meninggalkan empat anak itu. Kematian yang menyisakan tak hanya duka kehilangan, tapi juga beban hidup entah sampai kapan.

Aku takut kehilangan. Kehilangan kedua orang tuaku, kehilangan orang-orang dekatku dan kehilangan diriku sendiri.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home