fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Thursday, August 04, 2005

tentang memahami

malam lebaran



bulan di atas kuburan.


Apa yang kau tangkap dari pesan puisi karya Sitor Situmorang yang sebaris itu? Kita bebas mempersepsikan. Temenku bilang, tidak tahu apa maksudnya. Teman yang lain mengartikan penulisnya orang yang sangat kesepian. Yang lain memvonis sang penulis malas berpikir.Mana yang benar? Belum tentu ada.

Mencoba menagkap maksud pesan seorang penyair saja, kita tak pernah tahu maksud pesan sebenarnya. Hanya penulisnya yang tahu. Apalagi menangkap pesan Tuhan?

Pesan yang sekarang disimpan dalam lembaran-lembran kertas, lalau disalin dengan berbagai bahasa, dicetak ulang. Hanya satu orang yang mempunyai wewenang mempersepsikannya. Hanya ada dua pilihan, meyakin atau menolak. Tak bisa mempertanyakannya.

Dimana-mana kebeneran di perebutkan. Bahkan dengan huru hara yang melayangkan nyawa. Siapa yang berhak membenarkan dan menyalahkan seseorang? Kau, aku atau mereka? Atau memang bukan ketiganya?

Terjadi saling klaim itu dirinya yang paling benar. Itu hanyalah sebuah persepsi, hasil dari olah rasa hati, pikiran dan pengalaman seseorang. Dan setiao orang mempunyai pengalaman yang berbeda. Kebenaran itu pasti berbeda-beda.

Ketika persepsi dianggap suatu kenyataan yang harus sama, bencanalah yang muncul. Perdebatan tak hanya lewat kata, tapi lewat peperangan. Dengan parang, bom, ingin memusnahkan orang yang mempuyai persepsi bertengan dengannya. Dipikirnya, kalau mereka tak ada, persepsi dirinyalah yang paling benar.

Sebenarnya siapa yang berhak menilai, persepsi seseorang itu benar? Dan kebanaran yang mana yang dijadi acuan? Rumit nian. Tapi sebenarnya tidak juga. Ketika kita saling menyadari persepsi kebenaran yang berbeda itu disimpan dalam otak kepala kita sendiri. Tak perlu dikampanyekan kepada orang-orang dekat kita. Apalagi memaksakan dengan membawa parang dan golok untuk merobohkan tempat ibadah.

Lucu. Tapi begitulah.

Dan rupanya orang-orang tak pernah mau belajar saling menghormati. Peperangan persepsi itu dari dulu, ketika orang belum berperadaban sampai milenium siber ini. Tak pernah berhenti. Dan mungkin sampai akan datang.

Hanya ada satu kebenaran pasti, milik Tuhan. Dan kita bebas mempersepsikan kebenaran Tuhan itu sebebasnya. Bagaiamana caranya memahami kebenenaran Tuhan? Lewat jalan apa untuk sampai kesana?

2 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Memang dalam memahami karya ini penuh dengan cucuran air mata dan keringat, kenapa? kita tidak bisa merasakan kalau tidak berada pada posisi yang sama. Ataukah ego kita saja yang ingin mengatakan bahwa itu sama sekali tidak kita rasakan, bagaimana dengan hati nurani kita sendiri? jangan-jangan kita memang lupa hakekat kita sebenarnya di dunia. Hanya untuk merasakan hidup atau apa?
Saya jadi teringat pada pertanyyan yang menggelitik dalam sebua seminar yang saya ikuti, yaitu, kita hidup untuk makan? atau makan untuk hidup?
Apakah pemahaman saya yang hanya seorang mahasisiswi sastra tidak mempunyai kapasitas apa-apa? ataukah memang saya belum cukup umur dan ilmu?
Ternyata setelah berulang-ulang kali saya membaca puisi ini yang saya temukan malah banyaknya pertanyaan dalam diri saya.
Kita ternyata terlalu ponggah dan angkuh di hadapan sang Maha, hanya memikirkan kesenangan yang kita dapatkan tapi lupa bahwa itu semua akan sia-sia jika dihadapkan pada sebuah kematian.

11:32 AM  
Anonymous Anonymous said...

Memang dalam memahami karya ini penuh dengan cucuran air mata dan keringat, kenapa? kita tidak bisa merasakan kalau tidak berada pada posisi yang sama. Ataukah ego kita saja yang ingin mengatakan bahwa itu sama sekali tidak kita rasakan, bagaimana dengan hati nurani kita sendiri? jangan-jangan kita memang lupa hakekat kita sebenarnya di dunia. Hanya untuk merasakan hidup atau apa?
Saya jadi teringat pada pertanyaan yang menggelitik dalam sebuah seminar yang saya ikuti, yaitu, kita hidup untuk makan? atau makan untuk hidup?
Apakah pemahaman saya yang hanya seorang mahasisiswi sastra tidak mempunyai kapasitas apa-apa? ataukah memang saya belum cukup umur dan ilmu?
Ternyata setelah berulang-ulang kali saya membaca puisi ini yang saya temukan malah banyaknya pertanyaan dalam diri saya.
Kita ternyata terlalu ponggah dan angkuh di hadapan sang Maha, hanya memikirkan kesenangan yang kita dapatkan tapi lupa bahwa itu semua akan sia-sia jika dihadapkan pada sebuah kematian.
Dhanny

11:35 AM  

Post a Comment

<< Home