fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Wednesday, September 28, 2005

indonesia memerah

Apa yang tersisa kini dari indonesia? Dulu, terkenal indah. Dan keindahan itu akan menjadi kenangan, berubah menjadi nestapa tak lama lagi. Dimulai sejak adanya tsunami yang menghabiskan sekitar lima ratus ribu jiwa. Dalam sekejap orang-orang telah kehilangan orang tua, sahabat, rumah, semangat dan harapan.Dan bencana itu terus berlanjut. Kekeringan. Daerah-daerah pedalaman NTT, Wonogiri Selatan, Jogja Selatan tiap kemarau tak ada air. Saat seperti ini persediaan air di penampungan-penampungan habis. Air yang tersisa itu kini hanya berada di dalam danau-danau kecil. Bukan danau sebenarnya, hanyalah sebuah ceruk tanah di antara bebatuan yang tergenangi air. Air itu kini telah keruh dan dipakai untuk memandaikan kerbau dan kambing.

Untuk mencukupi kebutuhan air bersih, mereka menjual sebagian ternaknya dengan murah. Selain memang tak ada lagi rumput menghijau. Pepohonan pun kering meranggas tanpa daun sampai kemarau panjang berlalu.

Bencana alam belum teratasi, bencana manusia pun semakin terus banyak terungkap. Pencurian minyak bumi, pembabatan dan pembakaran hutan, koruptor tak hanya dilakukan oleh orang-orang pemerintahan dan bisnisman. Tapi sudah menembus ke institusi pendidikan.

Di negeri penghasil minyak yang besar, ternyata minyak sulit ditemukan. Antrean panjang mengular. Orang-orang membawa jerigen nyaris disetiap pom bensin. Bahkan ada yang menunggu di sebuah pom bensin yang kosong. Warga makasar sampai harus melakukan demonstrasi karena tak menemukan minyak untuk memasak, padahal sekitar ratusan meter dari rumahnya terdapat tempat distributor minyak milik pertamina.

Celakanya, mulai 1 oktober harga minyak akan naik sekitar 40%. Protes marak, tapi tak digubris. Dalihnya orang miskin sudah mendapatkan kompensasi Rp 100 rb per bulan per keluarga. Pabrik-pabrik tutup, karena subsidi minyak tak ada. Pengangguran akan membengkak. Saya jadi membayangkan sebuah peristiwa jika mereka lapar tak ada tak ada daya beli.

Ketidakmampuan masyarakat untuk membeli diikuti melemahnya nilai Rupiah. "Sudah jatuh tertimpa durian runtuh." Rakyat kecil makin terpuruk dan hanya bisa merenungi nasibnya.

Dalam keterhimpitan itu flu burung datang, sementara kasus polio belum tuntas. Sampai saat ini sudah sekitar 10 orang meninggal. Dan akan terus bertambah. Tapi pejabat yang bertanggungjawab masih tenang.

Penguasa DKI, setan sutioso mencak-mencak ketika menkes menyatakan kasus flu burung sebagai Kejadian Luar Biasa. Memang tarik menarik antara ekonomi dan jiwa manusia tak bisa dihindarkan disini. Semua punya argumen masing-masing.

Diperkirakan penularan virus itu dilakukan oleh unggas air yang tidak mempunyai kekebalan didalam tubuhnya, kata mentan. Pemerintah tak pernah memberikan instruksi cara menghindari penyakit itu. Pejabat hanya mengeluarkan statemen standar: harus menjaga kebersihan diri dan lingkungan masing-masing.

Sebenarnya kasus itu sudah ada sejak 2004 ketika deptan menemukan burung dara di monas yang positip flu burung. Entah kenapa setelah baru setahun, ketika wabah sudah merajelela orang tersebut baru ngomong.

Kalau orang-orang masih saja masih egois dan tak ada kepedulian, bukan tidak mungkin, indonesia tak ada lagi.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home