fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Wednesday, October 12, 2005

bayi dalam gelap

Ah.. akhirnya buka puasa itu tiba juga. Memasuki hari ketujuh, saya berbuka puasa di kantor. Tanpa menunggu adzan magrib di tv selesai, langsung aku buka ta'jil yang disediakan kantor: kolak pisang, snacknya lemper, bakwan dan kue. Cukup kenyang untuk sekedar membatalkan puasa sebelum makan "besar". Petang itu suasana kantor masih ramai. Banyak yang tampak masih menyelesaikan pekerjaan. Atau barangkali malah cuman chat, aku tak tahu persis. Berbuka bersama saat ini berbeda dengan tahun-tahun lalu yang sepi. Mungkin karena persediaan ta'jil makanan yang dulu terbatas.

Puasa ini benar-benar mengubah ritme kerja karyawan. Orang-orang berangkat lebih pagi dan ada yang pulang lebih cepat dari hari-hari biasa. Terutama mereka yang sudah punya keluarga. Mereka ingin melewatkan buka puasa di rumah bersama keluarga. Orang-orang kini berbicara dengan nada lebih rendah. Tak ada suara-suara tajam terdengar. Di milis m2k pun tak ada pengiriman gambar-gambar bugil.

Damai, teduh dan tenang.

Berbeda dengan suasana diluaran. Seperti yang terlihat di tv, koran dan isu-isu yang menjadi pembicaraan teman-teman. Kata temenku, kemarin dia melihat penumpang metromini yang diturunkan di tengah jalan. Dia tidak mau membayar penuh. Menurut laki-laki yang bekerja di mall itu, jaraknya cukup dekat dari tempatnya naik. Berdua mereka berdebat, tapi keneknya ngotot. Tampaknya sama-sama keras, dan karyawan mall itu memilih turun sebelum sampai tujuan.

Di solo, terjadi keributan saat pembagian kartu kompensasi bbm. Banyak warga yang merasa lebih miskin tapi tidak mendapat jatah kartu. Mereka protes dan menyerbu ke BPS ( badan pusat statistik). Untuk menghidari keributan lebih besar, kantor bps tutup dan dijaga polisi.

Di daerah-daerah lain mirip. Dana kompensasi bbm menjadikan warga ricuh. Di tangerang seorang kepala desa malah menyunat dana itu sebesar Rp 50 ribu. Kenapa ya masih ada orang-orang yang tega merampok hak orang-orang miskin? Mumpung ada kesempatan? Tak hanya itu, di Riau penerima kompensasi bbm ada yang punya mobil. Bahkan di irian pegawai negeri malah mendapat kompensasi itu.

Manajemen macam apa yang dipakai di Negeri yang kita tinggali ini?

Sudahlah, mengeluh atau berkomentar destruktif tak membuat suasana lebih baik. Aku segera berkemas pulang untuk "makan besar". Pengenya makan ikan bakar Kawanua yang ramai itu. Tapi tak jadi. Aku merasa tak nyaman, bukan karena antrian panjangnya. Tapi malu pada orang-orang yang antri untuk mendapatkan bbm minggu lalu, orang-orang yang beradu argumen untuk mendapatkan uang 100 rb per bulan.

Aku putuskan untuk makan di tempat biasa, warung padang sederhana. Cukup dengan 6000, sudah kenyang. Bukankah puasa itu untuk melatih mengendalikan keinginan, seperti yang sering aku dengar? Hari ini mungkin saat yang tepat untuk memulai lagi. Karena kemarin kemarin selalu tak berhasil dan gagal.

Sampai di tempat kost, ada seseorang yang telah menunggu di samping kanan pintu. Duduk di kursi kayu coklat yang biasa dipakai bercengkerama ibu kost dan keluarganya. Aku yakin orang itu bukan salah satu anggota keluarganya. Ternyata dia tetangga seberang yang jarang aku lihat.

"Pak, pak hajinya sudah berangkat tarawih?, aku menyimpulkan dia akan bertemu dengan pemilik kost.

"Tadi sudah ketemu sama pak haji. Sekarang mau ketemu Mas Xxx.

Oh ya? ada apa pak?

Maaf mas, ada tetangga yang ngontrak rumah yang di ujung itu melahirkan kemarin. Terus bayi dan ibunnya disandera, karena belum bisa melunasi biaya. Seluruh biayanya Rp 1,5 juta. Dia baru punya uang 800 rb. Dari pembicaraan dengan warga, akhirnya disepakati untuk meminta sumbangan ke seluruh warga.

Saya terdiam. "Bertambah satu lagi anak manusia yang harus mendapatkan kompensasi dana bbm." Menambah jumlah yang sekarang telah mencapai 23 juta orang.

OK pak. Lalu saya merogoh uang yang aku simpan di dalam dompet. Seadanya, karena memang lagi tak ada.

"Semoga membantu, kataku pendek.

"Terimakasih, sambutnya pendek. Dia meninggalkan aku yang sudah ngebet ingin mandi. Udara terasa panas setelah makan dan jalan kaki. Kubuka pintu, tiba-tiba lampu padam. Semua gelap tak teraba. Dalam kegelapan itu aku duduk di kursi mamandang langit.

"Semoga saja anak itu masa depannya tak segelap malam mati lampu sekarang ini."

0 Comments:

Post a Comment

<< Home