fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Saturday, October 15, 2005

motivator tersembunyi

Kekecewaan, merasa diperlalukan tidak adil, benarkah salah satu motivator dahsyat untuk memaksimalkan kemampuan diri? Mari kita baca cerita-cerita disini.Pagi ini aku mendapatkan pesan via ym. Tak biasanya sepagi ini dia menyapa. Dengan bahasa yang "formal" dia pamit. "Mulai Akhir bulan, saya tidak disini, saya pamit". Hebat. Selamat ya, aku jawab taklahah bermaksud formal. Dari perbincangan singkat pagi itu, dia mendapat tempat yang lebih baik dibanding disini.

Dia memutuskan pergi ketika dua minggu lalu terjadi konflik, mungkin dia merasa dipojokan. Tugas-tugas yang diberikan dinilai tidak beres-beres oleh atasan. Perbantaian kata-kata lewat milis terjadi. Dan semua anggota ikut membacanya.

Kurang lebih sebulan yang lalu, si Xzzz juga pergi. Entah kenapa dia tidak pamit. Kabar yang terdengar dia cuti. Tapi aku tak percaya. Terakhir lewat ym dia curhat. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba saja posisi supervisornya diambil tanpa pemberitahuan.

Menurut dia, dia tidak tahu alasan itu. Dugaannya, mungkin karena dia sering tidak masuk. Bukan tidak disiplin, tapi karena sakit. Juga sering dia datang telat, sangat siang baru sampai ke kantor. Tapi masih menurut dia, semua pekerjaanya beres. Jadi bukan itu alasan kuatnya. Lalu apa?

Dari isu-isu yang beredar, katanya dia kurang bisa berkomunikasi dengan partner kerjanya. Bahkan buruk, pernah bentrok dengan desainer kanal yang dikelolanya. Tapi semua itu dibantahnya. "Wajar kan ada perbedaan ide, begitu jawabnya tenang.

Mirip dengan kasus itu menimpa teman lainnya. Namanya Yxx, hanya saja dia bergabung di tempat ini lebih dulu dibanding Xzzz. Dia diterima sebagai wartawan. Kinerjanya dinilai baik, sampai dia dipercaya sebagai penanggung jawab Rubrik. Lalu perusaan berkembang dan bikin anak perusahaan. Konflik bermula dari sini. Dia langsung dikasih job yang sama sekali berbeda dengan tugas-tugasnya sebagai wartawan. Juga tanpa pembicaraan lebih dulu. Tentu saja dia menolak.

"Saya kan wartawan, masak disiruh jadi uploader, tangkis dia.
"Kan dulu di Sk tak disebutkan secara khusus sebagai wartawan?, bantah seniornya.
" Kalau begitu, bisa saja dong saya nanti disuruh bikin kopi, begitu percakapan yang diceritakan kepadaku.

Endingnya tentu sudah bisa ditebak. Dia mengundurkan diri. Saat ini dia mengelola sebuah situ kajian budaya, novelis dan penulis lepas di beberapa media.

Satu satu temanku pergi.

Kekecewaan yang dialami, menggumpal menjadi sebuah "dendam" pembukitan diri. Dan mereka semua berhasil melewati dengan baik. Andai peristiwa-peristiwa itu tak ada, akankah mereka akan terlecut dan menjadi seperti sekarang?

Bisa saja ya. Bukankah banyak alasan/ cara yang membuat seseorang bersemangat tanpa terluka? Memang luka bisa disembuhkan, tapi bekasnya tetap ada.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home