fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Saturday, November 12, 2005

pertaruhan terbesar

Menyeberang jalan lebih berbahaya daripada naik gunung. Kalimat itu aku baca dari majalah intisari, ketika aku masih sekolah dasar. Aku ingat betul, betapa aku sangat tak percaya. Aku masih tinggal di kampung yang nyaman waktu itu. Mobil jarang, apalagi kemacetan.

Dua bulan ini, terasa benar-benar nyata pernyataan itu. Menyeberang jalan menjadi sesuatu yang aku enggan melakukannya. Tak hanya berbahaya, tapi juga mengerikan. Karena aku harus kerja naik angkot.

Seperti pagi ini. Turun dari angkot aku bersiap menyeberang. Benar-benar siap-siap memperkirakan kapan waktu yang tepat aku harus mulai mengangkat kaki. Aku memperhatikan ke arah datangnya mobil dan motor.

Jalan didepanku dibagi menjadi dua jalur. Masing-masing jalur ada dua lajur. Dua lajur menuju ke arah pim dan sebaliknya. Untuk para pengendara tentu saja ini bagus. Kemacetan berkurang karena kendaraan yang melewati kolong tak terhalang lampu merah.

Tempat aku menyeberang kira-kira dua ratus meter dari perempatan lampu merah. Tepat di sebuah belokan.

Senin memang hari yang sibuk. Sudah bermenit-menit aku berada di pinggir jalan, kendaraan tak surut. Mobil berjalann beriringan, karena tak bisa menyalip. Dua lajur jalan yang dipisahkan dengan tanda strip-strip itu penuh. Tak ada kesempatan untuk berpindah lajur.

Ketika iring-iringan mobil nyaris habis. Lampu hijau tampaknya sudah menyala kembali. Jeda waktu nyala lampu merah dan hijau hanya beberapa menit. Mendadak motor-motor meluncur berada di barisan paling depan saling berebut untuk lebih cepat. Suara mesin memekakkan telinga, uap putih mengaburkan pandangan di seberang jalan. Aku tetap diam, menunggu. Kali ini aku hanya menatap bayanganku yang memendek.

Aku lihat jam, pukul 09.30. Satu jam sudah aku telat. Dan setiap senin, banyak pekerjaan yang mesti kelar. Aku harus lebih memberanikan diri, kalau tidak waktu telatku makin panjang. Ketika saat yang tepat yang aku perkirakan itu tiba, di depanku lewat sebuah gerobak bakso dan nasi goreng dan bajai beriringan. Aku tak bisa memotong jalan salah satunya.

Tiba-tiba kepalaku jadi gatal. Debu dari asap knalpot yang hitam menempek pada kulit yang lembab oleh keringat. Tanpa aku sadari sudah sekitar sepuluh orang berderet di samping kiriku. Rupanya perempuan-perempuan itu lebih takut dariku. Salah satu dari mereka ada seorang wanita hamil.

Aku jadi kepikiran, kenapa pengembang tidak membangun jembatan penyeberangan? Sudah nasib pedestrian jakarta yang malang. Disepanajng jalan, trotoar hanya dibangun untuk pelengkap saja. Dan pemerintah tak juga memperhatikan.

Hari makin siang. Jumlah kendaraan makin ramai dan makin kencang lajunya. Inilah saat yang tepat itu, aku dan perempuan-perempuan itu nekad lari terbirit-birit menyeberang. Suara klakson bersahut-sahutan, mobil meluncur tanpa mengurangi kecepatan. Anda salah satu penyeberang jalan itu tersandung batu, atau kakinya sendiri karena terburu-buru? Mudah-mudahan tak akan terjadi.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home