fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Wednesday, November 16, 2005

shalat standar

Sudah dua hari ini aku sengaja shalat ke masjid raya PI. Karena kantor tak menyediakan mushola. Kalau terpaksa shalat, berada diantara deretan meja-meja kosong. Atau di ruang server, dibelakang kursi salah satu karyawan. Ada mushola yang berada di basement 1. Didalamnya hanya ada kipas angin, dan luasnya sekitar sepuluh meter2.

Aku ternyata masih beruntung. Orang islam di AS harus shalat di tikungan-tikungan tangga, di sela-sela ruang-ruang sempit kuliah. Sangat jarang yang menyediakan fasilitas shalat. Di Paris memakai jilbab saja dilarang. Bolehnya hanya kalau berada di masjid atau rumah. Selain itu tak ada kebebasan waktu untuk shalat seperti di jakarta. Hmm .. aku belum juga memaksimalkan keberuntunganku itu.

Di dalam masjid berlantai marmer mengkilat itu, berjalan pemuda yang tangannya panjang sebelah. Tangan kirinya lebih kecil dan pendek daripada tangan kanannya. Aku sering melihat dia shalat di masjid raya PI. Pakaiannya sangat sederhana. Kontras jika dibandingkan dengan para musafir yang rata-rata bermobil.

Kulitnya hitam dan kasar. Dia datang selalu lebih awal sehingga selalu menempati shaf pertama. Ketika dia mengangkat tangan, lengan kirinya tidak terangkat keatas, tapi malah menyamping. Menyenggol orang yang berada disamping kirinya.

Kalau dia rukuk atau sujud, hanya dengan satu tangan. Tangan kirinya tak sanggup menopang tubuhnya yang hanya kecil. Suatu waktu aku shalat berdampingan dengan dia. Setelah selesai shalat dan bersalaman. Aku memandang dan dia membalas dengan senyum.

Aku bertanya, "Tiap hari sholat disini?"

"Setahun ini, Aku kerja di sini". Dia menjawab sambil membetulkan celananya panjangnya yang digulung.

"Oh, selalu shalat berjamaah?"

"Pasti".

"Hebat".

"Itu belum apa-apa mas " Masih standar. Itu baru sebatas kewajiban." Kita belum berhak meminta kepada Tuhan.

"Jadi?

"Untuk meminta kepada Tuhan, ya kita harus melakukan lebih dari standar. Misalnya shalat hajat, tahajud. Puasa senin kamis dan puasa lain. Tapi jangan melupakan juga shalat sosial.

"Ya, ya, ya. Aku mengangguk.

Termangu.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home