fun.. abis!!

contact:me@fanabis.com

Thursday, January 26, 2006

Taman yang membebaskan

Orang-orang mengangap dirinya nyaris tak punya cela. Temannya bahkan mencandai hidupnya tak ada tantangan lagi. "Rupawan parasnya, cerdas otaknya dan banyak hartanya". Sebagian besar perempuan menginginkan jadi kekasihnya. Banyak tempat pelesiran di ceruk benua telah di datanginya. Nyaris semua keinginan duniawinya bisa terpenuhi. Tapi tak ada yang tahu persis kehidupannya yang sebenarnya.

Seperti pada malam itu. Tito mondar-mandir menatap bayangannya yang sempurna di lantai kamarnya. Ia menuju jendela, menggenggam dingin teralis baja. Matanya menatap ke langit yang tak kuat lagi menahan beban. Titik-titik air mulai menyapu wajahya. Ia membiarkan air hujan membahasi tubuhnya.

Suara adzan yang membentur desau angin terdengar lemah. Tito menunduk. Hari terakhir buka puasa tahun ini terlewatkan. Sudah lama memang ia tak pernah mengalami buka puasa. Tapi malam ini terasa beda. Dia sendirian di rumah besar itu. Ayahnya lebih suka menenggelamkan diri dalam tumpukan pekerjaan.

Dia menatap bingkai foto yang berwarna kecoklatan. Foto ketika ia dan kedua orang tuanya berada di sebuah taman. Ia merindukan dipanggul ayahnya, melihat bunga-bunga, duduk-duduk di bawah pohon-pohon berakar tunjang. Tito suka memakai akar-akar yang menjuntai itu untuk berayun. Persis seperti monyet-monyet yang gelantungan di hutan belantara Kalimantan. Tak pernah ia takut jatuh. Ada rumput hijau tebal yang siap menangkap tubuhnya. Saat beranjak dewasa, keindahan itu memudar pelan-pelan. Sekarang semua musnah, tinggal kenangan.

Dan puncaknya adalah pagi itu. Dari kamarnya terdengar percakapan orang tuanya yang mula-mula hanya obrolan biasa. Lama-lama suara-suara itu mengeras. Tito tak begitu memperhatikan. Percekcokan seperti itu sudah sering terjadi setiap pagi. Tapi pertengkaran itu menghebat menjadi caci maki.

"Braak...
Sebuah benda mebentur lantai.

"Sudah gila kamu! "Menjijikkan. Pergi saja dengan perempuan sialan itu!"
"Hayo, mau mu apa? Menceraikan aku, hayo kalau berani!

Bukk..!
Plakk...!
"Diam!. Belum puas kamu menghamburkan uang-uang itu. Dasar perempuan belatung!"! Kamu tak berhak mengatur aku.

Plakk...
Brugggggggggg...

Bunyi itu mengesankan sesuatu yang berat jatuh. Kepala ibunya membentur tembok. Pembuluh darah di otaknya pecah. Ia koma dan tak pernah siuman, selamanya.

Sejak itu ia membenci pagi.

Setahun ini ayahnya memintanya mengurus perkebunan karet yang berhektar-hektar di Kalimantan. Bukan hanya pekerjaan yang membuat ia enggan. Tapi rutinitas harian yang mengharuskan bangun pagi dan bertemu orang-orang yang tak punya muka. Orang-orang yang tiap hari mencari mukanya yang hilang entah kemana. Terutama sekretarisnya.

Yang membuatnya muak, perempuan itu selalu menggodanya. Dari caranya berdandan dan bertutur, Tito tahu betul perempuan itu menginginkan uangnya belaka. Ia tidak menyukainya. Kalau mau, ia bisa memilih perempuan-perempuan di tempat clubbingnya.

Menjadi pimpinan puncak perusahaan pun tak membuatnya nyaman. Tiap minggu harus mengecek keadaan di lapangan dan urusan lain yang membuatnya makin tak betah. Tito memang tak menyukai bidang perkebunan yang telah dirintis ayahnya.

**

Ruangan kamar itu menjadi sempit. Baju-baju kotor teronggok di sudut. Buku, bantal, dvd berserak diatas kasur. Bi Yem yang selama ini mengurusnya pulang kampung minggu lalu. Mungkin sekarang ia sedang berhandai-handai di tengah-tengah keluarga besarnya. Menceritakan jakarta yang bak lampu petromax yang selalu mengundang daya tarik kunang-kunang. Tentang rumah yang besar-besar tapi miskin anggota keluarga. Tentang tempat-tempat nyaman, tapi banyak orang sibuk tak punya waktu. Tentang orang-orang pintar yang tak berperasaan?

Kepergian bi Yem mengusamkan kaca-kaca jendela. Debu tipis menyelimutinya.. Daun-daun kering berserak di teras. Entah ini malam takbiran keberapa yang ia lewatkan. Seingatnya, baru sekali ayahnya mengajak ke masjid. Dan ia ingin mengulang mnikmatnya malam takbiran. Memakai baju takwa dan sarung batik. Tak ketinggalan peci hitam pemberian kakeknya yang kini di surga.

Suara-suara takbir malam ini tak lagi sanggup menyejukkan dirinya. Suara takbir yang dibarengi dengan tetabuhan itu seolah mengajaknya berjoget. Ia lalu teringat malam-malam di tempat clubbingnya. Ketika berdansa, menenggak Dry wine, Vermouth, Cocktail wine, Cordial hingga Spirits. Perempuan-perempuan setengah telanjang yang mengelilinginya dalam keremangan. Hentakan musik yang makin keras menjelang dinihari. Orang-orang yang berjingkrak makin bersemangat.

Akankah ia akan mengulang petualangan malamnya?

Tito mendesah. Ia menuju ke rak koleksi dvd nya. Dia memunguti barang-barang itu lalu memasukkannya ke dalam kardus. Semua film bf dijadikan satu dalam plastik sampah. Tangannya menyusupke laci, mencari bong lalu menginjaknya. Poster-poster di dinding dirampas. Kemeja-kemeja yang kini kebesaran, koleksi dasinya yang jumlahnya melebihi hari dalam setahun ia kumpulkan jadi satu. . Ia mengangjutnya ke pekarangan belakang lalu ia membakarnya.

Di tengah guyuran hujan, dia melangkah keluar. Di seberang jalan tampak taksi parkir. Dia melambaikan tangan memanggil salah satunya.

"Malam pak. Tolong antarkan saya", Tito memecah beku.

"Saya perempuan. Kemana?

"Oh maaf. Ibu ternyata. Kemana saja.” Matanya mengusap-usap rambutnya yang basah.

"Panggil saja Maria."

Tito masuk duduk di kursi depan. Mereka berdua meluncur menyusuri jalanan. Udara yang menyembur dari ac mobil nyaris membekukan tubuhnya. Jalanan jakarta dini hari di malam takbiranitu benar-benar sunyi. Satu dua taksi yang lewat. Kendaraan lain tak ada.

Tepat di bundaran yang ada patung pahlawan, sayup-sayup ia mendengar suara canda ria anak-anak dan kecipak air. Makin dekat, terlihat jelas, anak-anak itu telanjang. Mereka mandi dalam kolam air mancur yang airnya kehijauan. Dalam keremangan lampu jalan, tubuh tubuh coklat itu makin mengkilat-kilat.

"Sudah lama menjadi sopir taksi?
"Sejak suamiku meninggal. Lima tahun lalu." Maria tetap menatap kedepan.
"Tidak pernah merasa jenuh dengan rutinitas itu?"
"Dulu saya seperti mereka, orang-orang yang terjebak pada rutinitas. Mereka terbelenggu persepsi-persepsi yang dianggapnya benar. Lahir, sekolah, menikah lalu mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya sampai tak tahu kapan harus berhenti. Mereka mengira semua itu bisa membahagiakan. Mereka seperti orang-orang yang tak punya kehendak pribadi.

Maria bersemangat menceritakan pengalman hidupnya. Ia pernah menikah dan mempunyai dua anak. Tapi perkawinan itu tak lama. Suami dan kedua anaknya meninggal dalam kecelakaan di tol ketika menjemput dirinya ke bandara. Waktu itu Maria pulang dari Taiwan sebagai TKI. Maria kehilangan orang-orang yang dicintainya. Perisitwa itu ayng membuat ia tak ingin memiliki apa-apa lagi.

"Bukankah semakin tak punya apa-apa, semakin tak kan pernah merasa kehilangan?, tanyanya yang tak meminta jawaban.

Seminggu dua kali, setelah narik taksi, Maria menjadi seorang guru. Dia mengumpulkan anak-anak jalanan yang tak mendapat kesempatan belajar di sekolah formal. Tanah kosong di bawah jembatan layang yang diapit dua jalan raya itu dijadikan sekolahan. Di kanan kirinya berbatas pagar kawat. Tiang-tiang penyangga jembatan itu terbungkus mural hasil cipta anak-anak didiknya. Tak ada gambar garuda pancasila. Yang ada poster Iwan Fals yang sedang berteriak mengepalkan tangan. Di bagian tengah sengaja di cat hitam, dipakai sebagai papan tulis. Sering ketika hujan, kelas itu terendam banjir. Sebelum pelajaran mulai, anak-anak membersihkan sampah-sampah yang tersangkut di kursi-kursi.

Kelas diadakan sore hari. Ketika anak-anak berhenti bekerja. Mereka menjadi pengamen, penjual koran, pengasong makanan yang diambilnya dari ibu-ibu yang tinggal di deketnya. Karena mereka tak mandi, bermacam bau meruap bercampur dengan debu yang terbawa angin. Tapi semangat anak-anak itu melemah. Karena ibu guru Maria selalu memberikan pesannya: keajaiban akan datang ketika kita menginginkanya.

Anak-anak itu tak pakai baju seragam dan tak bersepatu. Buku tulisnya hanya satu. Dan pensil nya pun hanya satu. Buku pelajarannya dari buku bekas, orang-orang yang menyumbangkan. Tak ada tiang bendera. Lonceng tanda pelajaran berasal dari potongan sisa rel yang digantung. Cara menyembunyikannya hanya dengan memukul nya memakai potongan bambu.

"Bersama anak-anak, hidup saya menjadi lebih berarti. Aku tak punya uang untuk memfasilitasi mereka. Tapi saya masih punya sisa tenaga.

Tito khusuk mendengarkan. Ada kehidupan lain yang baru saja ia tahu.

"Sampai kapan kau akan melakukan itu?"

"Entah. Begitu banyak anak-anak dan orang tua yang tak beruntung. Mereka harus diselamatkan."

"Apa yang kau dapatkan dari semua itu?"

"Tak penting benar, bagaimana saya merasakan itu semua. Yang lebih penting Saya bisa menjalankan peran kita. Kita sedang berada di tengah-tengah perjalanan. Waktu kita hanya sedikit. Aku harus memanfaatkan waktu yang sebentar ini untuk berbuat baik.”

“Kita harus menjalankan perintah Tuhan"

"Perintah yang mana?"

"Situasi dan kondisi yang melanda kita setiap hari, itulah perintah Tuhan. Seperti yang baru saja aku ceritakan.

"Jadi orang-orang yang rajin ke tempat ibadah itu?"

"Tak perlu membahas orang lain. Lebih baik mulai dari diri sendiri."

“Waktu saya habis, Saya harus pulang. Pagi-pagi saya harus memberikan pelayanan”.

Tito memutuskan ikut pergi ke gereja esoknya.

Perasaan takut membayanginya. Bagaimana andai ketahuan dirinya yang muslim masuk ke gereja?. Jangan-jangan dikira penyelundup yang akan menghancurkan gereja-gereja pada malam takbiran. Tapi bisa Maria meyakinkan. Itu hanya permainan perasaannya saja.

Sebuah Gedung, tak ada papan nama. Hanya ada tulisan dari kuningan berwarna emas menempel di tembok: Wisma Agung. Ternyata gereja itu berada dalam sebuah Wisma di lantai dua. Waktu itu tahun 1988, ketika kerusuhan terjadi, gereja itu menjadi sasaran amarah orang-orang yang rasis. Dan Gereja itu hancur, rata dengan tanah.

**
Tito menyerahkan semua tabungan dan barang-barang yang kini dianggapnya beban. Ia meninggalkan pekerjaan yang dianggapnya telah mengkerdilkan dirinya. Ia sadar bekerja adalah cari duit, cari muka, cari pengaruh dan cari status. Tak hanya itu, ia merasa semua kepemilikannya itu telah membuat dirinya menjadi budak. Karena semua pikiran dan tenaganya diarahkan untuk selalu mengumpulkan uang lebih banyak dan lebih banyak lagi.

Tito melenggang ke jalan. Ia pergi, berkeliaran mencari kebebasan dan kebahagiaan di setiap ruasnya. Kini ia sadar, hidup adalah sebuah pengembaraan yang tak pernah mengenal kata pulang.

5 Comments:

Blogger eddingals2091300783 said...

I read over your blog, and i found it inquisitive, you may find My Blog interesting. My blog is just about my day to day life, as a park ranger. So please Click Here To Read My Blog

http://www.juicyfruiter.blogspot.com

10:37 AM  
Blogger Bangsari said...

Oom, kena spam ya?

9:47 AM  
Blogger Ely said...

terima kasih ya dah mampir di blog saya. Saya mau baca dulu cerita panjang diatas

1:14 PM  
Blogger benalexander03799525 said...

hey, I just got a free $500.00 Gift Card. you can redeem yours at Abercrombie & Fitch All you have to do to get yours is Click Here to get a $500 free gift card for your backtoschool wardrobe

3:22 PM  
Blogger mei said...

lam kenal mas, tulis lagi donk...btw, bintaronya mana bos??

12:39 PM  

Post a Comment

<< Home